blog-post
November9t

Posted Date: Thursday 9th of November 2017 11:37:47 AM

Pesona Tersembunyi dari Ujung Kulon

Masyarakat hanya mengenalnya sebagai habitat badak bercula satu
yang kini habitatnya dapat dihitung dengan jari. Karena aksesnya yang
sulit, hanya segelintir pejalan yang telah menjelajahi taman nasional
pertama yang diresemikan di Indonesia dan telah menjadi salah satu
Warisan Dunia yang dilindungi oleh UNESCO pada 1991 ini.

Dari Jakarta masuk Tol Merak dan keluar di gerbang tol Serang Timur dan
menuju arah Pandeglang, Labuan, hingga tiba di Tanjung Lesung. Tanjung
Lesung juga dapat diakses dari kawasan Pantai Anyer, kemudian menuju arah
Carita. Dari Tanjung Lesung, untuk menuju Ujung Kulon dapat terlebih dulu
Dermaga Sumur sebagai dermaga penyeberangan ke Ujung Kulon dan Pulau
Peucang.

Pulau Peucang
Pantai Sumur merupakan penyeberangan ke Pulau
Peucang di Ujung Kulon. Taman nasional pertama
yang diresmikan di Indonesia ini merupakan suaka
margasatwa terakhir bagi badak Jawa (Rhinoceros
sondaicus) yang kini hanya tersisa tak lebih dari 60
ekor. Di sini, pengunjung dapat menyusuri sungai dan
hutan bakau dengan naik kano selama dua jam dengan
didampingi pemandu. Setiap tiga bulan, badak bercula
satu akan melintasi sungai Cigenter. Memang jarang
ada yang pernah melihat hewan ini, karena selama ini
hanya jejaknya yang terlihat. Bagi yang ingin menginap
dan menikmati matahari terbenam, terdapat Peucang
Island Resort di Selat Panaitan yang dikelilingi pantai
berpasir putih halus dengan air yang sebening kristal,
sementara kawanan rusa, babi hutan, dan monyet
yang berkeliaran di sekitar penginapan. Di utara Pulau
Peucang terdapat Walau Karang Copong atau
batu karang yang terkikis ombak besar sehingga
bolong di tengahnya. Karang Copong sering
dijuluki Tanah Lot-nya Pulau Jawa.


Cidaon
Cidaon adalah kawasan sabana yang terletak
tepat di seberang Pulau Peucang. Untuk menuju
ke sana tinggal lima menit naik speedboat atau
melakukan trekking kecil selama lima belas menit
melewati jalan setapak yang dikelilingi rawa
dan hutan bakau. Di padang rumput Cidaon
inilah peserta serasa di Afrika. Terlebih ketika
sekawanan banteng Jawa (Bos javanicus) dan
burung merak menampakkan diri. Saat terbaik
untuk berkunjung ke sini adalah menjelang
matahari terbenam.

Anak Krakatau
Kunjungan ke Ujung Kulon juga dapat disatukan
dengan mendaki Anak Gunung Krakatau, gunung
baru yang terbentuk setelah gunung induknya
meletus pada Agustus 1883. Ledakannya terdengar
hingga Afrika dan Australia, dengan debu
vulkanik tersebar hingga ke India dan Selandia
Baru, sementara guncangannya menyebabkan
gelombang tsunami setinggi 40 meter. Abu
panas, kebakaran, tsunami, badai, angin topan,
menewaskan 36.000 jiwa. Anak Krakatau berbeda
dengan gunung lainnya yang ada di Indonesia, ada
aturan ketat bagi wisatawan yang ingin mendekati
puncaknya. Berikut beberapa tipnya:
• Tidak semua wisatawan mendapatkan izin
mendaki Gunung Anak Krakatau, sehingga
disarankan bergabung dengan kelompok besar
yang biasa melakukan perizinan perjalanan
ke Balai Konservasi Dan Sumber Daya Alam
(BKSDA).
• Perjalanan ke Gunung Anak Krakatau tidak
mudah, sehingga memerlukan kebugaran fisik
sebelum mendaki gunung dengan kemiringan
45 derajat tersebut.
• Kenakan sepatu khusus dengan sol tebal dari
karet berkualitas sehingga kuat. Hal ini karena
pasir Gunung Anak Krakatau panas.
• Gunung Anak Krakatau tidak dikelilingi hutan,
sehingga disarankan menggunakan baju
berlengan panjang yang mampu menyerap
keringat. Lindungi kulit dari paparan sinar
matahari dengan mengoleskan tabir surya
sebelum mendaki.
• Bekali diri dengan air minum yang cukup untuk
selama perjalanan, mengingat tidak ada sungai
atau yang mengalir di sini.

Share This Artcle :

You Can Also Find Us On