Adventure

Mystifying Segara Anak Lake

Gunung Rinjani

Lombok

See on map

Danau Segara Anak adalah danau vulkanik yang terbentuk di kaldera Gunung Rinjani di atas 2.000 meter di atas permukaan laut. Danau membentang di area seluas 11 kilometer persegi, dan mencapai kedalaman hingga 230 meter. Danau Segara Anak terletak di sisi barat Gunung Rinjani di desa Lawang Sembalun di Lombok, Indonesia Timur. Warna biru yang menyolok dari danau memberi Segara Anak namanya: Samudra Kecil.

Perjalanan dari Desa Senaru, dan melalui kawah ke Danau Segara Anak memakan waktu dua hari dan satu malam. Ini dimulai dengan berjalan kaki melalui hutan tropis yang lebat dan mendaki gunung menuju tepi kawah. Perjalanan ke pelek Senaru merupakan pendakian yang menantang di daerah terjal dan tebing yang curam, namun kelelahan itu sangat dihargai oleh pemandangan panorama matahari terbenam yang menakjubkan di atas Gunung Rinjani, Bali dan Kepulauan Gili di cakrawala, dan perairan biru yang mempesona. Segara Anak berkilau ratusan meter di bawahnya.

Bagian atas kawah adalah tempat perkemahan yang populer bagi wisatawan asing maupun domestik dalam perjalanan ini untuk bermalam. Dianjurkan untuk menyalakan alarm pagi agar tidak ketinggalan masa fajar dari atas Rinjani. Dari tepi kawah, sangat tajam sekitar 600 meter ke Danau Segara Anak.

Bagian dari Segara Anak mengalir menuruni jurang curam membentuk satu air terjun besar dan beberapa yang lebih kecil. Ada juga empat sumber air panas alami di danau yang konon memiliki kekuatan penyembuhan magis, dan banyak yang melakukan pendakian semata-mata untuk tujuan pengobatan.

Meski memiliki ketinggian yang tinggi, berenang di danau tidak sedingin yang bisa dibayangkan. 2.010 meter di atas permukaan laut, permukaan air danau sangat hangat untuk ketinggian seperti itu, sekitar 20-22 derajat Celcius-jauh di atas "suhu kamar" gunung itu, yaitu sekitar 14-15 derajat Celsius.

Antara tahun 2008 dan 2009, peneliti Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi serta UniversiteLibre de Bruxells melakukan studi geokimia dan termodinamika di Segara Anak.

Pengujian menunjukkan beberapa kebocoran pada sistem vulkanik Gunung Baru; Kerucut di tengah danau. Kebocoran dari ruang magma tersebut merembeskan pasokan air panas ke Segara Anak, yang mengindikasikan adanya hubungan langsung antara aktivitas vulkanik dan suhu tinggi danau.

Komposisi geokimia air panas menunjukkan sejumlah unsur seperti klorida, natrium, kalium, dan sulfat. Meski kaya akan unsur, air hujan yang masuk ke danau membantu menipiskan kandungan kimianya. Segara Anak juga menjaga sirkulasi yang baik, dan karena itu tidak berbahaya bagi kehidupan.

Sirkulasi air danau terjadi ketika kepadatan air lebih tinggi di permukaan daripada di dasar. Air hujan memiliki kerapatan yang lebih tinggi daripada air hidrotermal, dan karena itu bergerak ke bawah, sementara air dari ventilasi hidrotermal bergerak ke atas. Ini adalah proses yang sedang berlangsung yang menyediakan air campuran dengan baik dan membawa kadar asam danau menjadi netral-cocok untuk pengembangbiakan ikan.

Pada tahun 1969, ahli vulkanologi dari Direktorat Geologi, (London) meneliti danau tersebut dan merekomendasikan budidaya ikan. Saat itu, tidak ada ikan di Segara Anak. Pada tahun 1985, pemerintah provinsi Nusa Tenggara Barat akhirnya mulai melakukan pembiakan ikan di danau. Ikan itu berkembang dengan pesat dan danau tersebut sekarang menjadi rumah bagi jutaan nila dan ikan mas, menjadikan Segara Anak bukan hanya tempat yang populer untuk memancing, namun sebagian penduduk daerah bahkan mencari nafkah dari sini.

Pada tahun 1980an, daerah sekitar Segara Anak berdenyut dengan satwa liar. Burung layang-layang, rangkong, dan rusa menggonggong di sekitar danau. Beberapa spesies monyet dapat ditemukan di hutan, termasuk monyet daun eboni hitam langka, dan kera jambul hitam, asli Indonesia. Tapi campur tangan manusia telah mengubah ekologi danau.

Dengan semakin banyak orang memanjat gunung dan masuk ke danau, semakin banyak spesies mulai lenyap. Awalnya, orang hanya menangkap ikan, tapi kemudian belibis, yang segera menyebabkan berburu rusa juga. Sekarang hanya sedikit belibis yang tersisa, dan rusa tidak lagi ditemukan di sepanjang rute. Diperkirakan hanya tersisa sekitar seratus orang.

Pada tahun 1998, Danau Segara Anak diabadikan dalam uang kertas dengan uang kertas sepuluh ribu rupiah. Seperti danau kawah lain di seluruh dunia, Danau Segara Anak lahir dari masa lalu yang penuh kekerasan, merayakan masa depan yang cemerlang, dan berpotensi membawa masa depan yang memprihatinkan. Namun kita tetap terpesona dengan asal usulnya, kemegahan dan keberadaannya yang unik.

Share This Artcle :